SEMARANG, suaramerdeka.com – Mahasiswa program studi Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Informatika, Universitas PGRI Semarang (UPGRIS), Abdul Wahid menciptakan beras analog dengan kadar glukosa atau gula yang rendah. Beras yang aman dikonsumsi buat penderita diabetes ini bukan berasal dari padi, melainkan kombinasi jagung dan Suweg yang dikenal tanaman hama. Bahan pangan pengganti nasi ini dibuat melalui hasil proses penelitian panjang, sekitar tiga bulan.
“Kami mencoba memaksimalkan bahan pangan yang ada di Indonesia. Apalagi, Suweg atau amorphophallus paeoniifoliu dari berbagai penelitian ahli, ternyata memiliki zat gizi, seperti karbohidrat, protein, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, serta vitamin C dan B1,” kata Wahid di Semarang. Tanaman Suweg juga diketahui mengandung beberapa senyawa berupa flavonoid, polifenol, dan saponin, tapi belum dimaksimalkan sebagai pengganti beras.
Menrut dia, pembuatan beras analog ini sederhana. Suweg dan jagung awalnya dibuat menjadi tepung, setelahnya dicampur menjadi satu serta diberikan air secukupnya. Campuran pangan itu lalu dikukus, serta dicetak menggunakan alat pencetak yang menghasilkan bentuk seperti beras. Kemudian, beras analog yang setengah basah ini dikeringkan agar kadar airnya berkurang. Tujuannya, supaya beras bisa bertahan lama. Beras analog ini telah diteliti, hasilnya rendah gula dan tinggi seratnya. Tidak seperti beras pada umumnya.
“Beras analog rendah gula, sehingga aman dikonsumsi penderita diabetes. Pembuatan beras analog ini untuk meningkatkan diversifikasi pangan lokal yang melimpah di Indonesia, termasuk jagung dan umbi-umbian,” ungkapnya. Kesulitan pembuatannya adalah saat mencampur bahan itu tidak boleh terlalu encer dan kental. Adapun, penelitian akan terus dikembangkan, dengan harapan ini dapat diproduksi massal dengan sasarannya dijual ke pasar, secara daring maupun supermarket.
Menurut dia, kendala dalam pemasarannya adalah masih rendahnya masyarakat mengkonsumsi makanan, selain nasi. Hasil penelitian itu dipamerkan dalam ekspo Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UPGRIS di aula lantai enam, kampus IV UPGRIS, baru-baru ini. Atas hasil penelitian itu, Rektor UPGRIS Dr Muhdi MHum mengapresiasi kreativitas Wahid dalam melakukan diversifikasi pangan. Kampusnya memang mendorong mahasiswa melakukan penelitian serta mengembangkan teknologi tepat guna, salah satu hasilnya beras analog ini.